SEJARAH

Pembaharuan terakhir 2018-07-27 09:40:58 317 hits

Perwujudan dari amanatUndang-Undang Dasar 1945 yaitu dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 20Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang merupakan produkUndang-Undang Pendidikan pertama pada awal abad ke-21. Undang-Undang inimenjadi dasar hukum untuk membangun pendidikan nasional dengan menerapkanprinsip demokrasi, desentralisasi, dan otonomi pendidikan yang menjunjungtinggi hak asasi manusia.

Pendidikan menurut rumusan UU nomor 20 tahun 2003tentang Sistem Pendidikan Nasional diartikan sebagai usaha sadar dan terencanauntuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didiksecara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritualkeagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia sertaketerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Disamping itudalam pasal 3 disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkankemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalamrangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuanuntuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman danbertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sertabertanggungjawab.

Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkandalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasionaldiharapkan dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didiksebagai generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadifaktor terpenting bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjangjaman.

Berdasarkan rumusan Undang-Undang di atas pendidikandimaknai sebagai proses, dimana proses itudilakukan secara sadar dan terencana artinya pendidikan bukanlah merupakansesuatu yang kebetulan. Oleh karena itu proses pendidikan harus direncanakanatau didesain dengan baik agar dapatmencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Dengan demikian penyusunan konsepini merupakan bagian dari kesadaran bahwa pendidikan perlu direncanakan.

Dalam pasal tersebut fungsi pendidikan adalahmengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yangbermartabat. Dalamkonteks ini pendidikan diarahkan pada pengembangan kemampuan atau potensi yangdimiliki peserta didik disamping itupendidikan juga berupaya membentuk watak yang baik bagi peserta didik. Olehkarena itu dirumuskanlah tujuan pendidikan nasional yang menyebutkan bahwapendidikan nasional hendak menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa kepadaTuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiridan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Berdasarkan rumusan tersebutnampaknya para pembuat kebijakan di negeri ini memahami betul bahwa keimanan,ketakwaan dan akhlak mulia merupakan titik sentral yang harus dicapai dalampendidikan terbukti ketiganya diletakkan pada awal rumusan tujuan pendidikan. Setelah beriman,bertakwa dan berkahlak mulia diharapkan peserta didik menjadi manusia yangsehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis sertabertanggungjawab.

Namun demikian realita saat ini justru jauhdari harapan.Kriminalitas meningkat, korupsi merajalela, perzinaan berkembang pesat,degradasi moralitas merupakan realitas, peredaran narkoba semakin menjadi, itusemua sebagai bukti bahwa pendidikan belum bisa memberikan jawaban atau bolehdikatakan pendidikan nasional belum bisa mencapai tujuan pendidikan yangdirumuskan. Hipotesaawal kegagalan ini bisajadi karena memang sedikitnya pendidikan agama di sekolah. Hipotesa yanglain karena 3 pengaruhperkembangan teknologi yang semakin pesat dengan berbagai dampak positifnegatifnya telah mempengaruhi manusia saat ini misalnya pengaruh media masabaik cetak maupun elektronik seperti TV, majalah, internet dan sebagainya. Disamping itu lembaga pendidikan sebenarnya telah memberikan proses pendidikansecara normatif kepada peserta didik namun tidak didukung oleh lingkungan yangmendukung sehingga penanaman nilai-nilai yang sudah ditanamkan di sekolah tidak memiliki arti apapunkarena tidak didukung oleh lingkungan yang menunjang tertanamnya nilai-nilaidalam pribadi peserta didik.

Melihat realitasdemikian maka dibutuhkan lembaga pendidikan yang tidak hanya menanamkannilai-nilai dan transfer keilmuan tetapi juga harus didukung dengan menyediakanlingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya nilai-nilai tersebut. Lembaga pendidikan itu adalah pesantren atau boarding school.Boarding school/pesantren merupakan lembaga pendidikan dengan model pendidikanmenawarkan penanaman nilai-nilai keislaman dan transfer keilmuan sekaligusmemberikan lingkungan yang menunjang tumbuhnya nilai-nilai tersebut menjadikarakter dalam diri peserta didik. Dengan demikian, sekolah berbasis pesantrenatau sekolah berbasis boarding school dapat menjadi solusi alternatif di tengahdegradasi moral yang dialami bangsa Indonesia ini.

Maka dari itu, berangkat dari realita di atas SMAMuhammadiyah Al-Mujahidin Wonosari yang merupakan sekolah swasta tertua diKabupaten Gunungkidul yang lahir 58 tahun silam, pada tahun 2017 ini berusahamemulai untuk mengarah kepada pencapaian lembaga pendidikan yang mampumemberikan pelayanan transfer nilai-nilai keislaman dan keilmuan yang akanmenumbuhkan karakter peserta didik.

Tahun ajaran 2017/2018 SMA Muhammadiyah Al-MujahidinWonosari berusahaberjuang keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mengubah image serta kultur sekolah padatahun-tahun sebelumnya.Dimulai dengan evaluasi dari  delapanstandar sekolah, usaha penataan sekolah, pembenahan lingkungan, peningkatan SDMyang profesional, konsep pembelajaran yang baik, serta pengelolaan sekolah yanglebih mengarah kedisiplinan, kerapian, kebersihan sehingga diharapkan menjadinilai jual dalam rangka mendapatkan peserta didik yang lebih baik danmeningkat. Upayameningkatkan kualitas pendidikan ditempuh dengan membuka sekolah unggulan (rintisankelas Al Mujahidin) pada tahun ajaran 2017/2018. Sekolah unggulan dipandangsebagai salah satu alternatif yang efektif untuk meningkatkan kualitaspendidikan sekaligus kualitas SDM. Sekolah unggulan diharapkan melahirkan manusia-manusiaunggul yang berguna untuk membangun negeri dengan kondisi seperti sekarang ini. Tidak dapat dipungkiri setiap orang tuamenginginkan anaknya menjadi manusia unggul. Hal ini dapatdilihat dari animo masyarakat untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah-sekolahunggulan. Setiap tahun ajaran baru sekolah-sekolah unggulan dibanjiri calonsiswa, karena adanya keyakinan bisa melahirkan manusia-manusia unggul.

Terkait dengan hal ini perlu dikembangkan strategialternatifyang bertujuan menghasilkan peserta didik yang unggul, yaitu berupa pemberianperhatian dan perlakuan khususkepada peserta didik sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Kelasunggulan (rintisan Al Mujahidin) di SMA Muhammadiyah Al-Mujahidin Wonosari padatahun ajaran 2017/2018 merupakan sejumlah siswa dari berbagai sekolah SMP/MTs yangsebagian besar memiliki potensi dan bibit unggul. Namun demikian,terealisasinya sekolah unggulan di SMA Muhammadiyah Al-Mujahidin Wonosari masihperlu pemikiran yang mendalam dan harus di tingkatkanlebih baik lagi, demikian juga kontribusi pemikiran dan sumbangsih dari segalapihak, baik dari Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Kabupaten maupunPropindi demi tercapainya sekolah unggulan (Al Mujadin) di SMA MuhammadiyahAl-Mujahidin Wonosari.

Aset Dan Fasilitas

Kamis, 21/04/2016

Profil Sekolah

Juma't, 22/04/2016

Program

Selasa, 24/07/2018

Kurikulum

Kamis, 21/04/2016

Visi Misi

Kamis, 21/04/2016

Jajak Pendapat

Informasi yang disajikan dalam situs ini menurut Anda ?

Kolom Guru

  • Data tidak atau belum tersedia.

MUTIARA HADIST

"Telah Mengabarkan Kepada Kami Ali Bin Abdillah Dari Hisyam Bin Yusuf Dari Ma'mar Dari Az-Zuhri Dari Urwah Bin Zubeir Dari Aisyah R.a. Berkata, "Orang-orang Bertanya Kepada Rasulullah SAW Tentang Para Dukun," Beliau Bersabda, "Tidak Ada Apa-apanya." Para Sahabat Bertanya, "Wahai Rasulullah, Mereka Kadang-kadang Bisa Menceritakan Sesuatu Yang Benar Kepada Kami. Maka Rasulullah SAW Bersabda, "Kalimat Tersebut Berasal Dari Kebenaran Yang Dicuri Oleh Jin, Kemudian Dibisikkan Ke Telinga Para Walinya (dukun). Maka Para Dukun Tersebut Mencampurkan Kalimat Yang Benar Tersebut Dengan Seratus Kedustaan." Para Dukun Mendapat Informasi Dari Jin